Arus urbanisasi yang kemudian meluas dalam globalisasi mengucurkan
air liur para gadis desa. Melihat teman-teman sebaya yang mudik dengan
kulit bersih bebas daki plus dandanan seksi aneka rupa benar-benar bikin
hati mulai tergiur. Terbersitlah dengus di dada seorang gadis, “Aku mau
seperti mereka!” Tekad baja untuk segera meninggalkan kampung halaman
mencuat sedemikian kuat.

Untung pun dapat diraihnya. Hidup
baru di tempat baru menggelinding cepat. Dengan sedikit polesan saja,
tampang, body, dan gemulainya bikin berkedut mata yang memandang. Tak
butuh waktu lama, dompetnya sudah penuh barang baru: kartu tabungan.
Dunia terasa indah dirasa. Matanya nanar dalam kesukaan. Sesekali
setumpuk uang dikirim untuk ibunya yang sedirian di desa.
Di
tengah terang benderang di siang bolong, tiba-tiba petir menyisir hati
menjadi getir. Tak tahu mengapa, perasaan itu menusuk sampai di ulu
hati. Meski sekian banyak pencapaian dinikmati, tetapi sanubari tak
mati. Ada residu yang mengguratkan jeritan untuk menghentikan keadaan
bobrok yang bertahun-tahun dialami. Kehidupan baru sebagai seorang
pelacur tak menandaskan kebahagiaan sempurna.
Lelehan air mata
mulai membual dari sumbernya. Ia sedih, menangis, dan menyesal.
Martabatnya serempak menggeliat serasa diinjak-injak. Meski bau harum
alami ramuan kraton mengoles kulitnya yang semakin halus mulus, ia tetap
merasa terhina. Dalam gumpalan uang yang berserak-serak, batinnya
tersiksa. Ia terkulai, lemas, dan kaku.
Di ujung kepedihan mendalam,
ia mantap untuk pulang. Setelah kerja malam, ia melangkah kembali ke
desanya. Dahulu berangkat dengan riang gembira menukil sejuta harapan,
kini pulang dengan kaki gontai penuh gemetaran. Ia menatap pilu halaman
rumahnya. Secercah muncul keheranan, lampu depan di beranda masih
menyala. “Ada tamu rupanya?” pikirnya. Gagang pintu dipegang, wooow… tak
terkunci. Namun, tidak ada tamu yang menyaru. Ia pun langsung
mempercepat langkah menuju pintu kamar ibunya.
Pelan-pelan ia
ketok-ketok pintu kamar itu. Secepatnya pintu terbuka. Gadis pun
bertanya, “Ibu apakah ada tamu?” Jawab ibu dalam kekagetan itu, “Tidak
ada tamu kok. Setiap hari memang begitu.”
“Kok pintu gerbang
terbuka dan pintu rumah tidak dikunci? Lampu juga tetap bernyala, Bu?”
tanyanya dengan nada sedikit tinggi. Ibu itu berkata dengan lembut,
“Anakku… Sejak Engkau pergi dari rumah ini, pintu tidak pernah aku
kunci. Lampu selalu bernyala pada malam hari. Karena ibu tahu, kapan
saja Engkau mau kembali pintu itu tetap terbuka untukmu.
Rumah
ini tetap Engkau punya. Ibu tahu bagaimana dirimu di seberang sana.
Namun, ibu tetap mencintai Engkau, apapun dan bagaimanapun Engkau.
Masuklah anakku… Aku bahagia Engkau pulang!” Mereka kemudian berpelukan
erat dan menangis haru.
