Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan

ebenarnya Siapakah Penyumbang Oksigen Terbesar Untuk Bumi?

0 comments
 
Sudah baca pertanyaan di atas? nah kalau udah dibaca, silakan dijawab. Siapa sih yang rela-rela memberikan Oksigen bagi manusia..berjasa banget kan?

Kalau anda jawab : Pohon




Jawabannya: sorry..masih salah..pohon adalah salah satu penyumbang oksigen, akan tetapi hanya sebesar 20% untuk bumi. pohon berguna untuk mitigasi (mengurangi) karbondioksida yang ada di bumi. jadi untuk mengurangi dampak pemanasan global, tanamlah pohon agar CO2 nya dapat dimanfaatkan oleh pohon. karena nilai wajar dari CO2 adalah 0,1% di bumi ini, tetapi tahun 2010 ini kadar CO2 di atmosfer bumi sudah mencapai 0,3% bro!!

Jadi Jawaban Yang Benar adalah :


anda tau siapa itu?

yap jawabannya adalah Plankton. Khususnya adalah Fitoplankton

Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar. Secara luas plankton dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik.

Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah makanan utama mereka. Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut. Ukurannya kecil saja. Walaupun termasuk sejenis benda hidup, plankton tidak mempunyai kekuatan untuk melawan arus, air pasang atau angin yang menghanyutkannya.

Plankton hidup di pesisir pantai di mana ia mendapat bekal garam mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Ini penting untuk memungkinkannya terus hidup. Mengingat plankton menjadi makanan ikan, tidak mengherankan bila ikan banyak terdapat di pesisir pantai. Itulah sebabnya kegiatan menangkap ikan aktif dijalankan di kawasan itu.

Selain sisa-sisa hewan, plankton juga tercipta dari tumbuhan. Jika dilihat menggunakan mikroskop, unsur tumbuhan alga dapat dilihat pada plankton. Beberapa makhluk laut yang memakan plankton adalah seperti batu karang, kerang, dan ikan paus.

Plankton adalah organisme yang menyumbang 80% kebutuhan oksigen yang ada di bumi ini. dengan kemampuannya berespisari menghasilkan gelembung-gelembun oksigen yang terdapat di dalam laut, oksigen tersebut terlepas ke udara dan menjadi gas yang bisa kita nikmati sekarang

Para ilmuwan dari Amerika Serikat menemukan plankton secara tidak langsung dapat membuat awan yang dapat menahan sebagian sinar matahari yang merugikan. Sehingga plankton bisa membantu memperlambat proses pemanasan bumi.

Dierdre Toole dari Institusi Oceanografi Woods Hole (WHOI) dan David Siegel dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB) adalah dua peneliti itu.

Penelitian yang dibiayai oleh NASA tersebut mengungkapkan ketika matahari menyinari lautan, lapisan atas laut (sekitar 25 meter dari permukaan laut) memanas, dan menyebabkan perbedaan suhu yang cukup tinggi dengan lapisan laut di bawahnya. Lapisan atas dan bawah tersebut terpisah dan tidak saling tercampur.
Plankton hidup di lapisan atas, tapi nutrisi yang diperlukan oleh plankton terdapat lebih banyak di lapisan bawah laut. Karenanya, plankton mengalami malnutrisi.

Akibat kondisi malnutrisi ditambah dengan suhu air yang panas, plankton mengalami stress sehingga lebih rentan terhadap sinar ultraviolet yang dapat merusaknya.

Karena rentan terhadap sinar ultraviolet, plankton mencoba melindungi diri dengan menghasilkan zat dimethylsulfoniopropionate (DMSP) yang berfungsi untuk menguatkan dinding sel mereka.

Zat ini jika terurai ke air akan menjadi zat dimethylsulfide (DMS). DMS kemudian terlepas dengan sendirinya dari permukaan laut ke udara.

Di atmosfer, DMS bereaksi dengan oksigen sehingga membentuk sejenis komponen sulfur. Komponen sulfur DMS itu kemudian saling melekat dan membentuk partikel kecil seperti debu. Partikel-partikel kecil tersebut kemudian memudahkan uap air dari laut untuk berkondensasi dan membentuk awan.

Jadi, secara tidak langsung, plankton membantu menciptakan awan. Awan yang terbentuk menyebabkan semakin sedikit sinar ultraviolet yang mencapai permukaan laut, sehingga plankton pun terbebas dari gangguan sinar ultraviolet.

Proses ini sebenarnya telah beberapa tahun dipelajari di laboratorium oleh para ilmuwan, namun proses alamiahnya baru kali ini dapat dipelajari.

Awan yang disebabkan oleh plankton ini, dipercaya dapat memperlambat proses pemanasan bumi, serta memiliki efek besar tehadap iklim bumi. Namun, untuk membuktikan hal tersebut, masih harus dilakukan penelitian lanjutan yang seksama.

Penelitian yang dilakukan di Laut Sargasso, lepas pantai Bermuda ini juga menemukan secara mengejutkan bahwa partikel DMS ini dapat terurai dengan sendirinya di udara setelah tiga sampai lima hari saja. Padahal, karbondioksida di udara, dapat bertahan hingga berpuluh-puluh tahun.
Readmore...

Mineral Langka Ditemukan di Laut Pasifik

0 comments
 
Para peneliti Jepang mengaku menemukan cadangan besar "rare earth", mineral langka yang terdiri atas rangkaian kandungan lanthanide dan actinide, di dasar laut. Mineral itu digunakan pada berbagai penerapan teknologi tinggi.


Ahli geologi memperkirakan, terdapat 100 miliar ton kandungan mineral itu pada lumpur di dasar Lautan Pasifik. Di dunia, saat ini China mendominasi dengan memproduksi 97 persen logam tersebut.

Pada laporan BBC, 4 Juli 2011, analis mengatakan, penemuan di Laut Pasifik itu bisa memengaruhi dominasi China. Jurnal di Inggris, Nature Geoscience, melaporkan bahwa tim peneliti yang dipimpin Yasuhiro Kato (guru besar tamu bidang Kebumian di Universitas Tokyo) menemukan mineral itu pada 78 lokasi di lumpur laut.

"Lapisan itu memiliki kandungan mineral langka yang tinggi. Hanya 1 kilometer persegi lapisan itu dapat memenuhi seperlima permintaan tahunan dunia," kata Yasuhiro Kato. Mineral langka itu ditemukan pada kedalaman 3.500-6.000 meter di bawah permukaan laut.

Kato menjelaskan, sepertiga lokasi penelitian itu berisi mineral langka dan logam yttrium. Lapisan itu berada di perairan internasional pada timur dan barat Hawaii serta timur Tahiti. Survei Geologi Amerika Serikat memperkirakan, permintaan global hanya 110 juta ton, terutama dari China, Rusia, negara-negara bekas Soviet, dan Amerika Serikat.
Readmore...

Manusia Lebih "Kotor" ketimbang Alam

0 comments
 
 
Total emisi karbon dioksida yang dihasilkan manusia di seluruh dunia jauh lebih besar daripada emisi alami yang dikeluarkan alam misalnya dari aktivitas gunung berapi. Hasil riset menunjukkan, emisi karbon dioksida manusia 135 kali lebih banyak dibandingkan emisi seluruh gunung api dalam rentang waktu yang sama. Jumlah karbon dioksida yang dikeluarkan manusia dalam tiga hari setara dengan jumlah karbon dioksida yang dihasilkan gunung-gunung api.


"Banyak yang bilang gunung api mengeluarkan CO2 lebih banyak daripada manusia. Tapi, mereka tidak pernah mengeluarkan angka pastinya," kata Terrence Gerlach, ahli gunung api yang sudah pensiun yang pernah bekerja untuk Cascade Volcano Observatory, bagian dari US Geological Survey di Vancouver.
Para peneliti kemudian memperkirakan emisi karbon dioksida gunung-gunung api dengan mengukur jumlah karbon dioksida yang dilepaskan saat erupsi. Metode yang digunakan ada beberapa. Di antaranya, memindai awan yang dihasilkan letusan gunung api, serta mengukur konsentrasi isotop di sekitar gunung api. Gerlach mengatakan bahwa letusan gunung api adalah kejadian luar biasa. Menurutnya, letusannya tampak hebat di televisi, tapi kejadian itu hanya sesaat.

"Bandingkan dengan sumber lain--asap pabrik, kendaraan, dan lainnya--yang mengeluarkan CO2 24 jam per hari," katanya. Pembukaan hutan saja mengakibatkan emisi sekitar 3,5 miliar ton per tahun. Mobil dan truk besar menghasilkan 2 miliar ton. Produksi semen menghasilkan 1,4 miliar ton karbon dioksida. Demikian Gerlach memberikan gambaran. "Hal itu saja sudah melebihi emisi yang dikeluarkan gunung api," katanya.
Para peneliti memperkirakan seluruh gunung api mengeluarkan 0,13 hingga 0,44 miliar ton per tahun. Sementara manusia mengeluarkan emisi 35 miliar ton pada tahun 2010.
Readmore...

2010, Salah Satu Tahun Terpanas

0 comments
 

Tahun 2010 tercatat sebagai salah satu tahun terpanas menurut laporan State of The Climate yang baru dirilis NOAA (The National Oceanic and Atmospheric Administration).


Laporan yang disusun 368 ilmuwan dari 45 negara itu merekam 41 indikator iklim selama lebih dari empat tahun. Beberapa indikator tersebut di antaranya adalah temperatur di lapisan bawah dan lapisan atas atmosfer, curah hujan, gas rumah kaca, kelembaban, tutupan awan, temperatur laut dan kadar garam, laut es, gletser, dan tutupan salju.

Beberapa pola siklus cuaca yang sudah dikenal memang mempunyai pengaruh signifikan pada kejadian cuaca maupun iklim selama tahun pengamatan. Namun analisis lengkap terhadap seluruh indikator menunjukkan tren jangka panjang yang sudah berlangsung selama 50 tahun terakhir. Fenomena ini sejalan dengan perubahan iklim global.

Tahun lalu juga terjadi osilasi iklim penting seperti Osiliasi El-Nino Selatan dan Osilasi Arktik yang memengaruhi iklim kawasan dan berkontribusi pada banyak fenomena cuaca penting selama 2010.
Berikut ini adalah beberapa indikator iklim 2010 yang menyebabkan tahun itu termasuk sebagai tahun terpanas:

1. Temperatur. Rata-rata temperatur tahunan di Arktik terus meningkat sekitar dua kali lipat.
2. Laut es dan gletser. Laut es Arktik menyusut hingga mencapai rekor area terkecil ketiga sepanjang sejarah. Beting es Greenland pun mencair dengan kecepatan paling tinggi sejak tahun 1958. Di sisi lain, rata-rata laut es di Antartika justru tumbuh hingga mencapai rekor maksimum.
3. Temperatur muka laut dan ketinggian muka laut. Meskipun fenomena La Nina berlangsung di separuh akhir 2010, rata-rata temperatur muka laut global tercatat sebagai yang terhangat ketiga sepanjang sejarah dan ketinggian permukaan laut terus naik.
4. Kadar garam di laut. Lautan jadi lebih asin daripada tingkat rata-rata di daerah yang tingkat penguapannya tinggi. Sedangkan di daerah yang curah hujannya tinggi air laut terasa lebih segar. Ini mengindikasikan siklus air yang semakin tinggi.
5. Gas rumah kaca. Konsentrasi gas rumah kaca terus meningkat. Karbon dioksida meningkat hingga 2,60 ppm, lebih tinggi dibandingkan rata-rata peningkatan tahunan sepanjang 1998-2010.
Readmore...

Hari Ini Jarak Terjauh Bumi-Matahari

0 comments
 
 
Senin (4/7/2011), Bumi akan berada pada jarak paling jauh dari matahari, yakni 152.102.196 kilometer. Akibatnya, matahari akan tampak 3 persen lebih kecil dari biasanya. Namun, perbedaan ini tentu tidak tampak dengan mata telanjang. Posisi Bumi yang menjauhi matahari juga tidak memengaruhi cuaca Bumi.
"Perbedaannya mungkin tidak kentara, tapi jelas dapat diukur," kata Mark Hammergen, astronom dari Adler Planetarium, Chicago, Amerika Serikat.

Jarak Bumi terhadap matahari selalu berubah karena orbit Bumi tidak lingkaran sempurna, melainkan berbentuk elips. Fenomena ini pertama kali dijelaskan secara detail dengan perhitungan matematika oleh astronom Jerman Johannes Kepler pada abad ke-17.

Bentuk elips memungkinkan Bumi berada pada posisi paling dekat dengan matahari--disebut perihelion--dan posisi paling jauh--dikenal afelion.

Meskipun Bumi berada pada posisi lebih jauh dari matahari, belahan Bumi bagian utara tetap merasakan musim panas. "Hal tersebut disebabkan oleh kemiringan Bumi yang memengaruhi musim," kata Hammergen. Saat ini, sumbu utara-selatan Bumi berada pada kemiringan 23,4 derajat.

Kebetulan, Kutub Utara tengah menghadap matahari saat Bumi berada pada posisi afelion. "Artinya, siang akan lebih panjang daripada malam pada Bumi belahan utara," jelas Hammergren.
Readmore...

Gas Sulfur Tandai Adanya Alien

0 comments
 
Molekul gas sulfur atau belerang bisa menjadi penanda adanya alien atau setidaknya kehidupan mikro. Demikian diungkapkan Renyu Hu, pelajar doktral Ilmu Keplanetan di MIT, dalam American Astronomy Society Meeting di Boston, 26 Mei 2011 lalu. Pendapat tersebut didasari fakta adanya kehidupan berbasis sulfur di Bumi.


Diketahui, banyak mikroba memakai senyawa sulfur untuk menghasilkan energi, persis seperti cara manusia menghasilkan energi dengan bantuan oksigen. Hu membuat simulasi guna meyakinkan orang pada pendapatnya. Ia membuat sebuah model planet yang berada di zona layak huni di sistem bintang mirip Matahari. Planet itu kaya nitrogen seperti Bumi tapi kandungan sulfurnya 1000 kali lebih besar dari Bumi.
Menurut Hu, kehidupan berbasis sulfur di permukaan planet mengeluarkan sisa gas hidrogen sulfida (H2S). "Hidrogen Sulfida dari permukaan punya dampak besar pada komposisi atmosfer suatu planet," kata Hu seperti dikutip Physorg, Kamis (30/6/2011).

Jika atmosfer suatu planet memiliki kadar H2S yang tinggi, bisa jadi planet tersebut memiliki kehidupan. H2S memang sulit dideteksi oleh astronom, namun H2S berlebih menyebabkan banyaknya sulfur aerosol yang bisa dideteksi dengan inframerah atau cahaya tampak.

Meski pendapat Hu masuk akal, tapi fakta membuktikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan planet ekstra surya (di luar tata surya) yang berpenghuni di sistem bintang yang mirip dengan Matahari. Dengan demikian, pendapat Hu masih perlu dikaji.

Hu sendiri memperingatkan bahwa sulfur belum tentu menjadi tanda kehidupan. Bisa saja sulfur tersebut adalah hasil dari aktivitas vulkanik di planet tertentu. "Kami masih harus mengkaji asumsi ini secara menyeluruh," kata Hu.

Menurut Hu, H2S juga bukan satu-satunya gas yang bisa menjadi tanda kehidupan. "Kita ingin melihat sebanyak mungkin gas yang ada di atmosfer Bumi dan mengkaji apakah gas itu bisa menjadi penanda kehidupan," urai Hu. Hu melakukan eksperimennya kali ini bersama rekannya, Sara Seager dan William Baines.
Readmore...

Rahasia Terbesar Planet Merkurius Terbongkar

0 comments
 
Merkurius menjadi planet terdekat matahari. Planet ini menjadi planet yang sulit dipelajari selama beradab-abad. Namun kini rahasia terbesarnya berhasil dikuak.


Nyatanya, hanya dua pesawat luar angkasa yang pernah berhasil mengunjungi Merkurius. Yakni, Mariner 10 NASA pada pertengahan 1970an dan kini Messenger (MErcury Surface, Space ENvironment, GEochemistry dan Ranging) yang telah mencoba tiga kali terbang ke planet itu sejak 2008 yang akhirnya berhasil masuk orbit Merkurius pada Maret ini.

Misi Messenger mampu menjawab banyak misteri yang menyelubungi Merkurius, termasuk teka-teka berikut.

Mengapa sangat padat?

Merkurius merupakan planet kedua terpadat di tata surya, hanya sedikit lebih kecil dibanding Bumi. Para ilmuwan menduga, Merkurius memiliki inti raksasa atau sekitar dua-pertiga massanya. Di Bumi, intinya hanya berporsi satu-pertiga.

“Tabrakan antara badan-badan berbatu di awal sejarah tata surya kemungkinan besar membuat lapisan luar Merkurius menjadi kurang padat, hanya menyisakan bagian-bagian berat,” jelas direktur departemen magnet terestrial Carnegie Institution of Washington Sean Solomon.

Menurut penyelidik misi Messenger ini, hasil analisa kimia dari Messenger pada permukaan Merkurius seharusnya bisa membawa teori impaktor ini dalam uji.

Perisai Magnetik

Selain Bumi, Merkurius merupakan satu-satunya planet berbatu dalam sistem surya yang memiliki medan magnet signifikan (meski hanya 1% kekuatan Bumi). Keberadaan medan magnet bukan sekadar pertanyaan sepele pada planet ini, tetapi juga melindungi organisme dari radiasi yang merusak dari matahari dan luar sistem tata surya.

Solomon menggambarkan medan magnet Bumi sebagai ‘payung menangkis radiasi yang masuk,’ dan tanpa medan semacam ini, akan sangat sulit bagi kehidupan untuk berkembang atau bertahan.

Para peneliti yakin, medan magnet Merkurius dihasilkan oleh proses ‘dinamo’ serupa Bumi yang didorong elektrik konduktif yang bergolak, cairan logam di inti terluar planet. “Messenger akan memetakan geometri medan itu secara rinci,” ujar Solomon pada Science yang bisa digunakan membantu para ilmuwan menjabarkan asal muasal Merkurius.

Merkurius ber-es?

Merkurius yang bermandi cahaya matahari menjadi tempat yang hampir tak mungkin untuk mencari es. Namun, beberapa kawah di kutub Merkurius nampaknya berada dalam bayangan permanen, dan merkuri di lantai kawah ini bisa mencapai minus 280 derajat Fahrenheit.

Solomon menyebutnya ‘perangkap dingin’. Tempat ini bisa menjadi ‘rumah’ lebih banyak deposito es dibanding bulan. Meski belum banyak air, es ini masih menunjukkan, “Air ada di mana-mana, setidaknya sebagai molekul,” kata Solomon.

Gumpalan persisten atmosfer

Meski Merkurius menjadi planet terkecil dan memiliki sedikit gravitasi, entah bagaimana Merkurius memiliki atmosfer, meski sangat lemah. “Entah bagaimana di Merkurius, atmosfer terus diregenerasi,” jelas Solomon.

Para ilmuwan menduga berhasil mengambil materi dari ‘angin matahari,’ aliran partikel yang memancar keluar dari matahari, yang mampu berkontribusi.

Pembawa hari kiamat?

Merkurius memiliki orbit paling eksentrik (dalam istilah astronomi berarti berbentuk oval) dibanding semua planet lain di tata surya. Simulasi komputer terbaru menunjukkan, selama beberapa miliar tahun, orbit ini bisa menjadi lebih eksentrik.

Merkurius memiliki 1% kesempatan bertabrakan dengan Venus atau matahari. Lebih menakutkan lagi, secara bersama-sama dengan gravitasi planet raksasa di luar, orbit Merkurius bisa mengacaukan orbit planet-planet dalam sehingga Merkurius, Venus atau Mars menabrak Bumi, sebuah bencana yang benar-benar berproporsi kiamat.
Readmore...

Puing-Puing Ledakan Supernova

0 comments
 


Lebih dari 400 tahun lalu, astronom Denmark, Tycho Brahe, mempelajari ledakan bintang yang kemudian diberi nama Tycho supernova. Namun ketika itu, tidak banyak informasi yang bisa didapat.

Kini astronom dapat melihat lebih detil ledakan supernova itu dengan sinar X. Menggunakan Chandra X-ray Obeservasory milik NASA, tampak puing-puing supernova itu menjadi seperti gelembung yang terus membesar dan terdiri dari serpihan-serpihan super panas.

Di dalam gelembung raksasa itu terdapat elektron energi tinggi yang bergerak dengan kecepatan lebih tinggi lagi.

Setelah Tycho supernova diamati sekian lama menggunakan Chandra X-ray Obeservasory, yang secara total mencapai waktu kurang lebih satu juta detik, peneliti berhasil menemukan struktur baru yang belum bisa dijelaskan secara ilmiah pada sisa-sisa ledakan bintang tersebut.

Sejumlah garis yang terlihat di puing-puing Tycho supernova menyediakan bukti-bukti adanya partikel yang telah diakselerasikan menjadi energi yang sangat tinggi.

Ini merupakan petunjuk yang sangat penting untuk memahami lebih baik atas objek yang pertamakali dilihat oleh Tycho Brahe pada tahun 1572 lalu tersebut.
Readmore...

Hujan Dipicu Anomali Cuaca

0 comments
 
thegaulia.blogspot.com
Hujan lebat di kawasan barat Indonesia yang terjadi beberapa hari ini diperkirakan akan turun hingga sepekan mendatang. Hal tersebut dipicu anomali cuaca yang disebut Madden-Julian Oscillation. Gangguan cuaca ini diperkirakan bertahan selama sebulan.

Menurut Kepala Subbidang Cuaca Ekstrem, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Kukuh Ribudianto, Rabu (29/6/2011), hujan di barat Indonesia itu selain akibat Madden-Julian Oscillation (MJO) juga terkait hangatnya muka laut di perairan barat dan tengah Indonesia. Sirkulasi udara juga tertutup di Sumatera bagian selatan. Fenomena MJO beberapa hari terakhir ini terpantau di Samudra Hindia, belum masuk Indonesia, tetapi berimbas di wilayah barat Indonesia.

"Gangguan cuaca ini akan bergerak ke timur dan mengakibatkan hujan lebat di wilayah yang dilalui. Untuk sampai ke Samudra Pasifik, perlu 30 hari hingga 40 hari," kata Kukuh. Selama itu, peluang hujan lebat secara sporadis akan terjadi di Indonesia.

Saat ini sebagian besar perairan Indonesia bersuhu sekitar 29 derajat celsius. Terjadi penghangatan suhu muka laut. Uap air yang terbentuk akibat MJO dan suhu laut yang menghangat di kawasan barat Indonesia, kata Kukuh, terakumulasi karena sirkulasi udara tertutup di bagian selatan Sumatera. Selain itu, ada pola angin belokan yang membuat distribusi uap air ke wilayah sekitar ekuator. Bagi Indonesia, dinamika cuaca itu akan memunculkan suplai hujan pada saat kemarau.
Readmore...

Rahasia Besar Bulan!

0 comments
 
Meski benda langit ini sangat dekat dengan Bumi, terdapat banyak rahasia yang dipegangnya. Rahasia terbesar apa yang dipegang benda langit yang mengorbit Bumi ini?
‘Dekat’ di sini tentunya memiliki konteks relative. Bulatan putih abu-abu di langit Bumi ini berjarak 362 ribu km dari Bumi. Misi menuju bulan tentunya tak mudah, terutama pada misi berawak. Tak ada manusia yang menginjakkan kaki ke bulan sebelum 1972.
Setelahnya, banyak negara di seluruh dunia mulai melakukan riset pada satelit Bumi ini. Misi masa depan oleh robot dan manusia akan membantu memecahkan beberapa teka-teki utama Bulan. Termasuk.
Cara bulan sampai di posisinya sekarang
Para ilmuwan mengaku memiliki ide apa yang sebenarnya terjadi. Banyak garis bukti (inti kecil bulan, unsur tertentu yang saling melengkapi dan simulasi komputer putaran orbital bulan selama ribuan tahun) menunjukkan, bulan lahir dari tabrakan raksasa.
Menurut teori ini, sekitar 4,5 miliar tahun silam, benda seukuran Mars menghantam Bumi yang masih muda dan cair. Materi hasil tabrakan itu pun bergabung menjadi bulan.
Bulan ‘biru’
Terbukti, banyak air berada di luar dan dalam bulan. Hal ini membuat para peneliti mencapai satu kesimpulan. “Makin diperiksa, makin banyak air ditemukan di tempat dan kedalaman yang berbeda,” ujar profesor fisika Neil Comins di University of Maine.
Hasil studi menunjukkan, interior bulan jauh lebih basah dari seharusnya. Pemeriksaan kembali terbaru pada sampel batuan yang dibawa ke Bumi pun memiliki tanda air. “Sebuah pertanyaan terbuka mengenai asal dan distribusi air di bulan,” kata Comins.
‘Terkunci’ Bumi
Bulan ‘terkunci’ Bumi. Artinya, hanya ada satu belahan yang dihadapi bumi. Sisi disebut maria, atau ‘laut,’ magma dingin. Anehnya, maria hampir tak ditemui di sisi belakang bulan, seperti yang diungkap data dari satelit (dan dilihat langsung astronot Apollo 8).
Belahan dingin ini diketahui memiliki kerak yang tebal (15 km) dibanding belahan lain. Hal ini membuat belahan di sisi lain lebih mudah retak akibat serangan meteorit yang melepas pembentuk maria magma kedalaman bulan, kata Comins. Namun, kerak asimetri ini sendiri merupakan teka-teki.

Model yang lebih besar pada interior bulan dan pemahaman yang lebih baik pada kerusakan yang timbul akibat tabrakan bisa membantu menjelaskan ‘dua wajah’ aneh ini.
Kunci keberadaan manusia?
Pada seperempat diameter dan lebih dari 1% massa Bumi, bulan menjadi satelit alami terbesar kelima dalam tata surya. Massa bulan yang cukup dan gravitasinya menstabilkan ‘goyangan’ di sumbu Bumi.
Selain itu, bulan menyebabkan pasang laut di Bumi yang mungkin membantu ‘mengaduk sup purba,’ lanjut Comins lagi. Singkatnya, para astronom bertanya-tanya apakah dunia seperti Bumi butuh bulan besar agar kehidupan bisa berkembang.
Jawabannya pertanyaan itu mungkin berada di planet tetangga, Mars. Planet Merah itu memiliki dua bulan kecil. “Saat manusia ke Mars dan menentukan apakah dan bagaimana kehidupan disana berevolusi. Hal itu akan membantu lebih memahami cara kehidupan terbentuk tanpa bulan,” tutup Comins.
Readmore...

Tata Surya Teraneh yang Pernah Ditemukan

0 comments
 
Tim astronom yang salah satu anggotanya adalah Dr Gavin Ramsay dari Observatorium Armagh menemukan bukti adanya tata surya atau sistem keplanetan yang paling aneh. Dalam tata surya tersebut, dua planet raksasa mengitari bintang ganda bernama UZ For yang terdiri dari bintang katai merah dan katai putih.
Hasil observasi tim astronom itu dipublikasikan di Jurnal Monthly Notices of Royal Astronomical Society dengan judul "Possible detection of two giant extrasolar planets orbiting the eclipsing polar UZ Fornacis". Jika nantinya terbukti kebenarannya, maka tata surya itu akan menjadi tata surya baru yang paling aneh.

Dalam sistem bintang ganda, dua bintang yang berpasangan akan mengitari satu sama lain. Bintang katai merah dan katai putih pada sistem UZ For juga mengalami hal serupa dengan waktu revolusi hanya beberapa jam. Karena bintang satu akan melewati muka bintang lain, dan sebaliknya, maka beberapa gerhana akan terjadi.

Sama seperti gerhana Matahari dan Bulan, gerhana yang terjadi pada sistem keplanetan tersebut sebenarnya bisa diperkirakan. Namun, dalam observasi, para astronom menemukan fakta bahwa gerhana kadang terjadi terlalu dini atau terlalu terlambat. Akhirnya, astronom berpendapat, ada 2 planet yang mengitari bintang ganda itu, membuat gerhana seolah dini atau terlambat.

Berdasarkan perhitungan, dua planet yang mengitari bintang ganda itu setidaknya memiliki massa masing-masing 6 dan 8 kali Jupiter. Sementara, waktu yang diperlukan oleh planet untuk melakukan satu revolusi masing- masing 5 dan 16 tahun. Sistem keplanetan ini terlalu jauh untuk secara langsung dicitrakan.
Sistem bintang ganda menjadikan planet dalam sistem tersebut sangat tidak bisa dihuni. Bintang katai putih secara terus-menerus mencuri material dari permukaan bintang katai merah sehingga material seolah mengalir di angkasa bak sungai. Material itu kemudian terpanaskan hingga jutaan Kelvin, membanjiri sistem keplanetan dengan sinar-X yang mematikan.

Dengan fakta itu, maka tak perlu berharap adanya planet yang memiliki kehidupan di dalam sistem tersebut. Observasi bintang ganda dan dua planet yang kemungkinan mengitarinya itu dilakukan dengan Southern African Large Telescop (SALT) dan data hasil observasi selama 27 tahun dari beberapa observatorium.
Readmore...

Komet Baru Akan Terlihat Dua Tahun Lagi

0 comments
 
Astronom University of Hawaii, AS, menemukan sebuah komet yang diperkirakan bisa terlihat dari Bumi dalam dua tahun mendatang. Komet itu ditemukan pertama kali dalam observasi tanggal 6 Juli 2011 dengan Teleskop Pan STARRS 1 di Haleakala, Maui, Hawaii. Keberadaan komet itu telah dikonfirmasi oleh astronom UH Manoa, Richard Wainscoat dan Marco Micheli, dalam pengamatan sehari kemudian memakai teleskop di Mauna Kea.

Komet yang ditemukan tersebut bernama C/2011 L4 atau sederhananya disebut PANSTARRS, diambil dari nama teleskop yang digunakan untuk menemukannya. Saat ini, komet itu berada pada jarak 1,2 miliar kilometer dari Matahari, antara orbit Saturnus dan Jupiter. Namun, bulan Februari 2013 nanti, komet ini akan mencapai jarak terdekatnya dengan Matahari, sekitar 50 juta kilometer, dan dengan demikian bisa terlihat.
Kecerlangan komet ini saat terlihat akan tergantung pada jumlah es yang dimiliki dan tersublimasi menjadi gas saat komet ini bergerak mendekati Matahari. Namun, beberapa pihak menyebut, komet ini berpeluang menjadi salah satu yang tercerlang dalam 10 tahun terakhir. Dalam beberapa bulan ke depan, astronom akan mengamati lebih lanjut untuk mendapatkan prediksi akurat tentang kecerlangan PANSTARRS.

Komet PANSTARRS berasal dari Awan Oort, tempat yang dipercaya menjadi rumah bagi komet-komet berperiode panjang. Objek di Awan Oort hanya terpengaruh sedikit gravitasi dari Tata Surya sehingga bisa 'diganggu' oleh gravitasi dari bintang terdekatnya. Wainscoat mengatakan, "C/2011 L4 memiliki orbit hampir serupa parabola, artinya, ini mungkin pertama kali komet itu datang mendekati Matahari dan mungkin takkan pernah kembali."

Meski bergerak mendekati Matahari dan akan terlihat oleh manusia, petensi komet ini menghantam Bumi dipastikan nol, jadi tak berbahaya. Sebaliknya, komet ini menawarkan kesempatan langka bagi astronom untuk mempelajari material yang tersisa dari awal pembentukan Tata Surya. Penemuan komet ini sebenarnya adalah bonus, sebab tujuan utama pengamatan astronom yang menemukannya ialah menemukan asteroid yang berpotensi menghantam Bumi.
Readmore...

Sebuah Asteroid Dekati Bumi Malam Ini

0 comments
 
Asteroid 2011 MD yang baru ditemukan 22 Juni 2011 lalu akan datang mendekati Bumi, Senin (27/6/2011) malam ini. Asteroid tersebut akan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi kurang lebih pukul 00.00 WIB.
Asteroid akan melayang di atas wilayah lepas pantai laut Antartika, sekitar 3218 km di selatan Afrika Selatan. Saat mencapai jarak terdekat, ketinggian asteroid adalah 12.000 km di atas permukaan Bumi.

Dalam posting di Twitter, Asteroid Watch Program NASA menyatakan, "Tak ada kemungkinan Asteroid 2011 MD menghantam Bumi. Tapi, astronom akan menggunakan kesempatan ini untuk mengobservasi dengan radar."

2011 MD berukuran kurang lebih 10 meter. Berdasarkan teori, asteroid yang ukurannya kurang dari 25 meter akan hancur ketika memasuki atmosfer Bumi sehingga kecil potensinya menghantam atau menimbulkan kerusakan.

Nah, apakah mungkin melihat asteroid ini malam nanti? Astronom amatir dari Kebumen, Ma'rufin Sudibyo ketika dihubungi sore ini mengatakan, "Sulit kalau dengan mata telanjang. Harus memakai teleskop." Lebih lanjut, Ma'rufin mengatakan, "Pada dasarnya memang asteroid ini hanya terlihat di wilayah Antartika."
Karenanya, masyarakat mungkin harus menanti citra asteroid ini di internet jika ada yang mengabadikan. Jarak terdekat yang dicapai asteroid 2011 MD memang cukup dekat. Tapi, jarak tersebut belum memecahkan rekor. Februari lalu, asteroid 2011 CQ1 melayang mendekati Bumi mencapai jarak hanya 5471 km.

Asteroid 2011 MD ditemukan 22 Juni 2011 lalu dengan teleskop LINEAR di New Mexico. Teleskop itu dipakai untuk mengobservasi near Earth Object, objek di dekat Bumi yang beberapa diantaranya berpotensi menghantam Bumi.
Readmore...

5 Superbenua di Masa Depan

0 comments
 
Superbenua baru yang sekarang kita kenal antara lain; Afro-Eurasia, Amerika, Eurasia dan Oceania, merupakan penggabungan dari beberapa super benua sebelumnya. Penyatuan ini dimungkinkan karena pada hakekatnya masing-masing superbenua melakukan pergerakan konsisten dengan siklus superbenua yang terjadi selama sekian juta tahun lamanya secara bertahap. Dalam ilmu geologi, superbenua adalah suatu daratan yang terdiri dari lebih dari satu inti benua. Di bawah ini merupakan 5 superbenua baru yang diprediksi akan terbentuk di masa depan.1. Pangea Ultima (~250 — ~400 juta tahun dari sekarang)

Pangea Ultima adalah kemungkinan konfigurasi superbenua di masa depan dan alternatif superbenua Amasia. Konsisten dengan siklus superbenua, Pangaea Ultima dapat terjadi dalam 250 juta tahun ke depan. Konfigurasi ini sangat potensial, dihipotesiskan oleh Christopher Scotese, yang ide namanya diambil dari kesamaannya dengan superbenua Pangea sebelumnya. Konsep tersebut didasarkan pada pengujian pembentukan siklus masa lalu dan pecahnya supercontinents, bukan pada pemahaman saat ini mekanisme perubahan tektonik, yang terlalu tepat untuk proyek yang jauh di masa depan.

Supercontinents menggambarkan penggabungan dari semua, atau hampir semua, dari daratan bumi menjadi benua tunggal yang berdekatan. Dalam skenario Ultima Pangea, subduksi di Atlantik barat, timur Amerika, menyebabkan subduksi dari mid-ocean ridge Atlantik diikuti oleh subduksi menghancurkan cekungan samudera Atlantik, menyebabkan Samudera Atlantik menutup, membawa Amerika kembali bersama-sama dengan Afrika dan Eropa. Seperti kebanyakan supercontinents, interior Pangaea Proxima mungkin akan menjadi gurun semi-kering yang rentan terhadap suhu ekstrem.




Pangea Ultima (Sumber: 1.bp.blogspot)


2. Amasia (~250 — ~400 juta tahun dari sekarang)
Amasia adalah superbenua masa yang akan datang dapat dibentuk oleh penggabungan Asia dan Amerika Utara dan merupakan alternatif untuk Pangea Ultima. Hal ini sebagian besar bergantung pada kenyataan bahwa Lempeng Pasifik sudah mensubduksi di bawah Eurasia dan Amerika Utara, sebuah proses yang jika dilanjutkan pada akhirnya akan menyebabkan superbenua yang ada mendekat. Sementara itu, karena mid-ocean ridge Atlantik, Amerika Utara akan didorong ke arah barat. Dengan demikian, Atlantik di beberapa titik di masa depan akan lebih besar dari Pasifik. Di Siberia, batas antara Eurasia dan Pelat Amerika Utara telah stasioner selama jutaan tahun. Kombinasi faktor-faktor ini akan menyebabkan Amerika Utara bergabung dengan Asia, sehingga membentuk sebuah superbenua.




Amasia (Sumber:Environment )


3. Australia-Antarctica-Afro-
Eurasia (~130 juta tahun dari sekarang)
Benua Antarctica bergabung dengan benua Australia bagian selatan atau bergabung dengan Asia (kedua kemungkinan ini akan membentuk superbenua baru) pada ~130 juta tahun dari sekarang.




Afro-Eurosia-Australia (Sumber: fc05.deviantart.)


4. Australia-Afro-Eurasia (~60 juta tahun dari sekarang)
Pada ~60 juta tahun dari sekarang, diprediksi benua Australia bertrabakan dengan Asia Timur, membuat Barisan Gunung yang sebanding dengan Himalaya.




Afrika-Asia-Eropa-Australia (Sumber:3.bp.blogspot.)


5. Novopangea
Novopangea adalah superbenua masa depan yang mungkin terlahir. Prediksi ini dikemukakan oleh Roy Livermore, peneliti dari Universitas Cambridge, pada akhir 1990-an, dengan asumsi gerak penutupan Pasifik, Australia dengan Asia timur, dan utara Antartika. (**)




Novopangaea (Sumber: environment)
Readmore...

Fakta - Fakta Menarik Tentang Kedua Kutub Bumi

0 comments
 
Dua kutub berada dan berlawanan secara ekstrem dengan kondisi area yang kita huni, dan diantara dua kutub ini juga banyak memiliki fitur yang berlawanan . 10 hal berikut adalah hal yang paling signifikan tentang dua daerah di bumi yang paling tidak ramah ini. jika anda bisa menambahkan, jangan ragu untuk menulisnya di komentar, terima kasih ....

Kutub Yang Berlawanan
Pada dasarnya daerah Kutub Utara (Artik) adalah laut beku yang dikelilingi oleh tanah. Sebaliknya, Antartika adalah benua-dengan pegunungan dan danau yang dikelilingi oleh lautan. Secara sosial dan politik, wilayah Artik meliputii wilayah utara Kanada, Greenland (sebuah wilayah Denmark), Rusia, Islandia, Norwegia, Swedia, Finlandia dan Amerika Serikat.

Kebanyakan Es
Benua paling selatan memiliki sekitar 90 persen es di dunia, yang berarti hampir tiga perempat dari air tawar bumi terhimpun di sana. Hal ini mengakibatkan beberapa puncak gunung es terapung sering dilanda kekeringan. Bahkan, Pangeran Mohammed Al Faisal dari Arab Saudi pernah berencana untuk menemukan 100 juta ton gunung es dari Antartika dan memindahkannya ke Semenanjung Arab.

Daerah Tidak Bertuan
Meskipun kita sering menyaksikan penancapan bendera kemenangan yang menjadi simbol penjelajah masa lalu di Kutub Selatan, tetap saja Kutub Selatan merupakan satu-satunya tempat di Bumi yang tidak dimiliki oleh siapa pun. Tidak memiliki sejarah penduduk asli.Berdasarkan Perjanjian Antartika, dinyatakan bahwa tanah dan sumber daya yang ada t digunakan untuk tujuan damai dan ilmiah. Hal ini sangat kontras dengan lebih dari 4 juta orang yang hidup dalam lingkaran Arktik di beberapa kota-kota kecil maupun kota-kota besar seperti Barrow, Alaska, Tromso, Norwegia, Muramansk dan Salekhaard di Rusia.

Emas Hitam
Menurut US Geological Survey, sebelah utara lingkaran Artik diperkirakan terdapat 1/4 cadangan minyak dari total cadangan minyak yang belum digali. Rusia telah mengambil langkah berani dengan mengklaim dan meletakkan petak besar wilayah Kutub Utara dengan harapan akan mengeksplorasi cadangan gas di Lomonosov Ridge. 1.200 mil di bawah air pegunungan tersebut diakui menyimpan sekitar 10 miliar ton sumber daya yang diinginkan . Bahkan AS juga turut terlibat dengan mengirimkan kapal pemecah es untuk memetakan wilayah Artik mereka yang masuk dalam wilayah Negara Bagian Alaska. Sementara itu diyakini bahwa beberapa endapan minyak bumi terdapat di Kutub Selatan (Antartika) seperti di bawah Laut Ross. Namun Perjanjian Antartika dapat menghentikan pengeboran minyak secara berlebihan.

Penguin dan Beruang Kutub
Beberapa kartu natal dan iklan coke dapat disalahkan atas salah persepsi tentang beruang kutub dan penguin tinggal di lingkungan yang sama dan dingin. Jika penguin tinggal di Antartika maka beruang kutub tinggal di Artik. Beruang kutub pernah melakukan perlintasan jalan beku yang sama dimana burung yang melenggang di lintasan tersebut menjadi mangsa yang mudah ditangkap bagi beruang raksasa. Tapi penguin tidak perlu khawatir mengenai daerah pemangsa. Mereka telah beradaptasi dengan menggunakan sayap mereka yang berfungsi sebagai pengayuh layaknya sirip untuk bergerak di laut

Alamat Santa Klaus
Setiap Natal, ribuan surat dikirimkan ke Santa Claus dan berhasil sampai di Kutub Utara (Alaska). Kota kecil dengan penduduk sekitar 1.778 orang tersebut mengiklankan kode pos mereka sebagai kode pos Santa Klaus. Semangat liburan dirasakan sepanjang tahun ditandai dengan permen berupa tongkat bergaris mengiringi lampu yang bergerak di sepanjang tempat-tempat pesta seperti St Nicholas Drive, Snowman Lane dan Kris kringle Drive.

Melawan Brrrr
Antartika begitu dingin sehingga salju tidak pernah mencair di banyak wilayah Antartika. Suhu rata-rata Antartika sekitar -56 derajat Fahrenheit (-49 derajat Celcius), merupakan iklim yang paling dingin di bumi. Sebaliknya Kutub Utara (Artik) pada musim dingin rata-rata suhunya mencapai -29 derajat Fahrenheit (-34 derajat Celcius), tapi akan lebih hangat di musim panas. Suhu terendah yang pernah tercatat di bumi adalah -128 derajat Fahrenheit (-89,6 derajat Celcius), tercatat pada tanggal 21 Juli 1983 di Stasiun Vostok yang terletak di dekat Geomagnetic Kutub Selatan.

Lubang Ozon
Sementara Antartika memiliki lubang ozon yang telah berkembang menjadi sekitar tiga kali ukuran daratan Amerika Serikat. Di Kutub Utara juga terlihat kehilangan ozon. Sebenarnya, lubang disini bukanlah lubang yang diartikan secara harfiah. Yang dimaksud "lubang" adalah sebuah wilayah yang kehilangan banyak ozon, sebuah bahan kimia yang membantu melindungi planet bumi dari radiasi matahari yang berbahaya. Kerugian ozon di belahan bumi Utara lebih rendah daripada di Selatan karena temperatur Kutub Utara lebih hangat sehingga membatasi pembentukan awan stratosfer yang dapat merusak ozon. Tapi suhu di stratosfer yang tinggi di atas Kutub Utara, telah berangsur-angsur mendingin selama dekade terakhir yang mengakibatkan meningkatnya kehilangan ozon

Retakan di Es
Artik sangat sensitif terhadap perubahan iklim. Suhu hangat selama musim panas menyebabkan 12-15 kaki tebal lapisan es mencair dan hancur berantakan. Tahun lalu, para peneliti melaporkan untuk pertama kalinya bahwa retakan di es telah mencapai semua jalan ke Kutub Utara.

Meleleh
Kutub Utara memiliki siklus mencair yang normal di mana sekitar setengah dari kantong es menghilang di musim panas dan membeku kembali seluas Amerika Serikat selama musim dingin. Namun sebuah studi menemukan fakta yang mengkhawatirkan bahwa 2 mil tebal lapisan es di Greenland mencair begitu cepat sehingga setengah dari itu bisa hilang pada akhir abad ini. Studi-studi lain telah menemukan bahwa seluruh Artik bisa bebas es selama musim panas dalam beberapa dekade. Akhir-akhir ini, sebuah penelitian menemukan bahwa Antartika juga kehilangan es maka jika semua es meleleh (tidak ada seorang pun mengharapkan hal ini terjadi dalam waktu dekat) akan menyebabkan permukaan air laut akan meningkat sekitar 200 kaki.
Readmore...

Risiko Lubang Hitam Kian Menakutkan

0 comments
 
Lubang hitam mampu menelan berbagai benda angkasa. Semakin banyak yang ia telan, semakin besar daya hisapnya. Namun risikonya tidak hanya itu.

Lubang hitam merupakan wilayah luar angkasa yang dapat menelan gas, debu, bintang, planet, maupun benda angkasa lain yang ada dalam suatu galaksi. Gaya tarik gravitasinya sangat kuat. Sebuah planet yang melintas di sekitarnya tidak akan selamat dari hisapan lubang itu.

http://static.inilah.com/data/berita/foto/1617722.jpg

Banyak astronom khawatir aktivitasnya yang semakin liar akan mampu menelan planet Bumi. Lantas apa yang membuat sebuah lubang hitam mampu menyedot benda-benda angkasa di sekitarnya?

Sebenarnya ada teori yang menyebutkan, daya hisap sebuah lubang hitam bisa melemah lalu ia akan masuk ke fase tidur, berhenti memakan benda angkasa. Menurut George Helou, dari Spitzer Science Center NASA di Institut Teknologi California, lubang hitam di galaksi kita saat ini sedang dalam fase tidur itu.

Lubang hitam yang disebut Sagitarius A itu letaknya berada di tengah galaksi Bima Sakti. Scherbakov, astronom dari Pusat Astrofisika Harvard mengatakan, lubang hitam di galaksi Bima Sakti hanya memakan 0,01% bintang di sekelilingnya.

Namun selanjutnya peneliti juga menemukan fakta, lubang hitam senantiasa berevolusi, sehingga bisa jadi akan aktif lagi suatu hari nanti. Semakin banyak ia menelan bintang, semakin cepat pula proses evolusinya.

Menurut data yang didapat dari teleskop luar angkasa, selama beberapa tahun terakhir ini, semakin banyak lubang hitam menelan benda angkasa. Selain itu, dikatakan bahwa semakin banyak ia menghisap benda angkasa, semakin besar pula daya sedotnya. Ini dikarenakan peningkatan unsur ion di dalamnya.

Namun tidak hanya berevolusi, belakangan juga diketahui lubang-lubang hitam yang ada di berbagai galaksi juga saling bergabung. Berbagai benda angkasa yang masuk ke dalam lubang hitam mengandung banyak energi dalam jumlah besar.

Sehingga gabungan antarlubang hitam tentunya juga meningkatkan jumlah energi yang dimilikinya. Energi ini dapat mengendalikan alur keluar masuk gas dan debu ke luar lubang.

Tidak hanya debu dan gas, para astronom meyakini bahwa hisapan sebuah lubang hitam juga banyak melepaskan sinar-X dan gelombang radioaktif. Namun jumlah radiasi sinar X yang mereka amati belum dapat dijelaskan. Yang jelas, semuanya itu mempengaruhi perkembangan galaksi dimana tempat lubang hitam itu berada.

Memahami proses, cara kerja dan evolusi lubang hitam adalah penting untuk menjelaskan formasi galaksi bima sakti dan keutuhan bumi di masa depan. Mempelajari radiasi dan interaksi antargalaksi dapat membuat kita paham akan besarnya medan gravitasi, gaya magnet, dan proses radiasi lubang hitam.

“Kami telah mempelajari data dari teleskop ruang angkasa selama beberapa tahun terakhir, dan menemukan bahwa semakin cepat lubang hitam melahap material angkasa, maka semakin tinggi daya ionisasinya,” ujar David Ballantyne, asisten profesor fisika Georgia Institute of Technology.

Ahli fisika angkasa saat ini belum memiliki penjelasan yang cukup mengenai daya sedot lubang hitam dan bagaimana pertumbuhannya atau apa yang membuat lubang hitam tertentu berhenti berkembang. Tapi yang jelas, lubang hitam dan cakram di sekitarnya akan memengaruhi benda-benda langit.

“Penghisapan lubang hitam atas benda angkasa melepaskan banyak energi. Tidak hanya radiasi, tapi juga gas yang dilepaskan sampai jauh ke luar galaksi. Gas ini dapat mengubah susunan letak bintang, dan menghentikan perkembangan galaksi,” ujar Ballantyne.

“Daya hisap lubang hitam masih terus dipelajari. Ada yang berkembang dan ada juga yang mati. Mempelajari ini penting untuk mengetahui bentuk dan perubahan susunan galaksi kita,” tambah Ballantyne.

Lubang hitam memang menyedot benda angkasa. Bumi beresiko ditelan olehnya. Namun risikonya ternyata tidak hanya itu. Gas yang disemburkan dari dalamnya pun dapat membuat benda angkasa bergeser, dan bahkan mungkin bertabrakan.
Readmore...

Komet Berbahaya Dekati Bumi pada 2013

0 comments
 
Sebuah komet yang diperkirakan bisa menghantam bumi pada 2013 baru saja ditemukan. Komet tersebut ditemukan dengan menggunakan teleskop yang dirancang khusus untuk berburu asteroid berbahaya.Seperti dilansir dari Livescience.com, komet bisa terlihat dengan mata telanjang ketika jaraknya sangat dekat dengan bumi. Teleskop Hawaii's Pan-STARRS 1, mendeteksi komet yang diberi nama C/2011 L4 (PANSTARRS), pada malam hari, tepatnya 5 dan 6 Juni lalu.Penemuan ini lalu dilanjutkan observasi menyeluruh dengan menggunakan instrumen lain keesokan harinya. Diperkirakan jarak komet sekitar 30 juta mil (50 juta kilometer) pada Februari atau Maret 2013.Selama jarak terdekatnya dengan Bumi, sekitar dua tahun, C/2011 L4 (PANSTARRS) bisa terlihat di langit barat setelah matahari terbenam, jika cuaca cerah."Komet ini memiliki orbit yang dekat dengan parabola, berarti bahwa ini mungkin pertama kalinya tidak akan pernah mendekati matahari dan tidak pernah bisa kembali, " kata peneliti dari University of Hawaii, Richard Wainscoat.Saat ini C/2011 L4 (PANSTARRS) jaraknya sekitar 700 juta mil dari matahari, tepatnya di atas orbit planet Jupiter. Detil ini didapatkan karena teleskop memiliki teknologi detektor elektronik yang sensitif.
Pan-STARRS 1 menemukan komet berbahaya tersebut dengan melakukan pemindaian pada langit untuk mengenali asteroid yang berpotensi membahayakan dan kemungkinan menghantam Bumi. Beberapa bulan ke depan, para astronom akan terus mempelajari komet tersebut. Hal ini demi mendapatkan prediksi yang lebih baik.
Readmore...

Ditemukan Sistem Planet Aneh yang Mematikan!

0 comments
 
Dua orang astronom di Afrika Selatan telah menemukan bukti akan adanya dua planet raksasa yang mengorbit sistem bintang kembar. Temuan tersebut dilaporkan di South African Astronomical Observatory (SAAO).

Menurut SAAO, sistem tata surya dengan dua planet dan dua ‘matahari’ yang ditemukan oleh Stephen Potter dan Encarni Romero-Colmenero tersebut merupakan contoh dari sebuah sistem planet yang ‘sangat aneh’.

“Dua buah bintang, satu merupakan white dwarfdan yang lain merupakan red dwarf, berada sangat dekat sehingga mereka hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja untuk saling mengorbi satu sama lain,” sebut kedua astronom, seperti dikutip dari News24, 17 Juni 2011.

Sistem planet itu, kedua astronom menyebutkan, berorientasi dengan cara yang sangat aneh, sehingga dari Bumi, sepasang bintang itu saling menimbulkan gerhana setiap kali mengorbit, jika dilihat dari Bumi.

Potter dan rekan-rekannya mendapati pula bahwa gerhana tersebut tidak terjadi dalam waktu-waktu tertentu. Kadang gerhana datang terlalu cepat atau terlalu lambat.
Temuan ini membuat mereka berhipotesa bahwa hadirnya dua planet raksasa itu memberi efek gravitasi yang akan menyebabkan bintang tersebut mengorbit dengan tidak beraturan. Planet-planet itu juga akan sedikit mempengaruhi jeda antara dua gerhana tersebut.

Dari pengukuran, astronom berhasil membuat perkiraan bahwa massa kedua planet itu setidaknya enam dan delapan kali massa planet Jupiter. Kedua planet juga membutuhkan waktu 16 dan 5 tahun untuk mengorbiti kedua bintang yang jadi ‘mataharinya’ tersebut. Namun sayangnya, planet-planet itu berada di jarak yang sangat jauh untuk dapat difoto secara langsung.

Selain itu, sistem planet binary star yang diberi nama UZ For itu juga merupakan sistem planet yang sangat tidak ramah untuk ditinggali.

“Karena kedekatannya, gravitasi milik bintang white dwarf secara konstan terus mencuri material dari permukaan bintang red dwarf,” kata astronom. “Aliran material ini akan menghantam bintang white dwarf dan membuatnya menjadi sangat panas hingga ke suhu jutaan derajat,” sebutnya.

Akibatnya, astronom menyebutkan, bintang itu akan membanjiri sistem planet tersebut dengan radiasi sinar X dengan jumlah yang sangat banyak dan mematikan.

Sistem planet aneh itu sendiri dapat ditemukan setelah astronom mengobservasi menggunakan Southern African Large Telescope (SALT) baru milik SAAO yang mampu mengombinasikan data yang dikumpulkan oleh banyak observatorium dan satelit dalam jangka waktu 27 tahun.
Readmore...

Cara Black Hole Menghisap Bintang dan Benda-benda Angkasa

0 comments
 


Astronom yang mengira berhasil memecahkan misteri kilatan tak biasa di galaksi jauh mengatakan, kilatan itu berasal dari lubang hitam masif yang melahap bintang. Seperti apa?

Energi luar biasa itu pertama kali dideteksi satelit Swift NASA pada 28 Maret lalu. Kemudian, keberadaan energi ini dipastikan pesawat luar angkasa dan teleskop di Bumi. Awalnya, beberapa ilmuwan mengira kilatan itu merupakan ledakan sinar Gamma dari bintang jatuh.


Namun, kilatan dari bintang jatuh biasanya hanya bertahan beberapa jam saja. Pada kilatan ini, kilatan tak menghilang melainkan terus mengilat berlanjut menjadi lebih terang dan memancarkan radiasi energi tinggi beberapa bulan kemudian.


Setelah meneliti data, ilmuwan menyimpulkan, bintang berukuran tak terduga seukuran matahari terhisap lubang hitam kuat. Saat lubang hitam menghisap bintang, terpancar sinar energi ke Bumi yang terekam teleskop. ‘Pesta bintang’ ini terjadi di jantung galaksi 3,8 miliar tahun cahaya dari Bumi (satu tahun cahaya sekitar enam triliun mil).


“Jelas kejadian berbeda dari yang pernah kita lihat,” kata astronom Joshua Bloom di University of California, Barkeley yang mengklasifikasikan peristiwa langka ini.


Lubang hitam sendiri merupakan inti super padat berputar dari galaksi yang menghisap apa pun di sekitarnya.


Hingga kini, cara tumbuh besarnya masih menjadi misteri. Ilmuwan mengira, observasi terbaru ini bisa membantu memahami cara terbentuknya galaksi. Temuan ini diterbitkan dalam jurnal Science.



Readmore...

Cahaya Misterius dari Bintang yang Mati

0 comments
 
 
Tanggal 28 Maret lalu, ilmuwan dikejutkan oleh cahaya misterius dan sangat terang yang ditangkap oleh satelit Swift milik NASA. Cahaya tersebut begitu terang dan berasal dari galaksi yang berjarak milyaran tahun cahaya dari Bumi.

Semula, ilmuwan menduga bahwa cahaya itu berasal dari ledakan sinar gamma. Namun, ilmuwan ragu sebab cahaya yang ditangkap bertahan dalam hitungan bulan sementara cahaya dari ledakan sinar gamma hanya dalam hitungan jam.

Joshua Bloom, astronom dari University of California, Berkeley dan timnya kemudian menyelidiki. Kamis (16/6/11), mereka mempublikasikan hasilnya di jurnal Science.

Akhirnya diketahui bahwa cahaya tersebut muncul karena sebuah bintang dilahap oleh Lubang Hitam. Lubang hitam dengan gaya tariknya yang tinggi seolah menghisap bintang. Begitu bintang terlahap, energi dilepaskan dan cahaya yang begitu terang muncul.

"Kejadian ini sangat berbeda dari yang pernah kita lihat sebelumnya," kata Bloom. Ilmuwan mengungkapkan, kejadian ini berlangsung di "jantung" galaksi yang berjarak 3,8 milyar tahun cahaya dari Bumi.

Dapatkah kejadian serupa terjadi di galaksi Bimasakti? Andrew Levan, peneliti dari University of Warwick yang juga turut terlibat dalam observasi mengungkapkan, kemungkinan tersebut bisa saja ada tapi peluangnya kecil.
Readmore...